Menyoal Per-Nikahan


Menyoal Per-Nikahan
Di usia 24 tahun ini pasti tak jarang orang yang ribet mempersoalkan pasangan, pernikahan impian. Banyak pasti diantara kita yang jadi narasumber utama saat kumpul keluarga, reuni angkatan masa SMA dengan pertanyaan yg sama yaitu “ Kapan nikah ? ”, “ Si A udah nikah lo, kamu kapan ? ”, “ Aku dah punya anak lo, kamu masih sendirian aja ”. Dan yang lebih parah “ Pacaran udah lama kayak nyicil rumah tapii gak nikah-nikah, kayaknya pasanganmu gak serius deh sama kamu ”.  Yang pernah merasakan di posisi ini mari kita bergandengan tangan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mampu bikin minder, rasa kepengen nikah yang menggebu-gebu. Yang punya pasangan mulai mengarahkan pembicaraan kearah nikah, ini bisa jadi pemicu kandasnya hubungan ditengah jalan ketika salah satu pasangan tidak menanggapi atau menyampaikan bahwa ia belum siap menikah. Yang masih sendiri mulai speak sana speak sini, kualitas pasangan nomer sekian yang penting mau nikah.
Adapun sejatinya nikah adalah persoalan yang rumit mulai dari pre-wedding hingga dipisahkan karena maut atau perceraian. Mengapa demikian ? yuk di bahas. Pre Wedding gak sedikit pihak yang ikut campur dalam menentukan konsep pernikahan, catering, nikah dihalaman rumah atau sewa gedung. Gak sedikit juga caten (calon penganten) merasa tertekan di fase ini. Bagaimana tidak tuntunan sedemikian banyak tapi tak seimbang dengan dana yang dimiliki calon penganten tersebut. Ini tidak begitu terasa jika biaya full di cover orangtua mereka.
Setelah ijab qobul di lakukan apakah ketidakenakan/rumit hanya cukup sampai di prewedding ? jawabannya tidak. Masih ada persoalan yang lain contoh ternyata sang istri adalah orang yang rapih dan mencintai kebersihan. Sedangkan sang suami sukanya meletakkan pakaian habis pakai di atas kasur atau nyantolin pakaiannya di paku paku disekitar rumah. Siapa yang engga kesel kalo kayak gini dilakukan tiap hari.
Belum lagi tuntutan orangtua yang ingin segera punya cucu. Membuat pasangan terburu-buru ingin mempunyai momongan tanpa memikirkan aspek kesiapan fisik maupun psikis. Gak cuma itu ngomongin soal punya anak ternyata banyak yang harus di persiapkan mulai dari finansial yang akan membengkak, kesiapan kita sebagai orangtua untuk mendidik anak sesuai dengan zamannya. Dan ini juga menjadi masalah bagi pasangan yang tinggal di kos-kosan, mereka harus mempersiapkan uang untuk pindah ke rumah kontrakan atau mengajukan pinjaman ke bank untuk membeli rumah. Tentu ini harus diperhitungkan bagi calon pasangan karena yang membutuhkan dana tidak hanya persiapan kehamilan tapi juga persiapan masa depan anak.
Saat duduk di bangku perkuliahan dosen saya pernah menyampaikan bahwa anak yang secara langsung mengetahui/mengamati orangtuanya melakukan hubungan seksual, cenderung melakukan hubungan seks lebih dini. Dan ini jelas tidak baik bagi pertumbuhan dan perkembangan sang anak.  Tidak cukup sampai disitu kita sebagai calon orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi sang anak. Dan hal-hal terbaik tidak hanya kesejahteraan yang bersifat fisik semata namun juga psikis. Banyak dari kita yang terbuai dengan hal-hal yang berbentuk fisik misal lebih banyak calon orangtua yang mempersiapkan baju bayi, sepatu bayi, tempat tidur bayi, daripada calon orangtua yang mempersiapkan diri untuk mendidik anak dengan mengikuti kelas parenting.
Selama ini kita hanya disuguhkan bahwa anak yang berkecukupan adalah anak yang mempunya berat badan seimbang, pakaian layak tapi kita lupa bahwa kondisi psikis anak adalah nomer satu. Bagaimana cara membuat anak dekat dengan orangtua, bagaimana menjadi orangtua yang membahagiakan buat anak, hal-hal semacam ini penting dipersiapkan bagi pengantin baru yang hendak memiliki momongan.  
Untuk persiapan kehamilan tidak hanya dari pihak perempuan yang mempersiapkan tapi juga dari pihak laki-laki yang menjadi pendamping. Nutrisi yang cukup harus dipersiapkan, mental yang oke harus dipersiapkan. Karena menjalani masa kehamilan 9 bulan 10 hari tidak seenak posting pp test + di instastory atau mengunggah foto kehamilan di instagram. Banyak hal-hal tidak mengenakkan yang harus dilewati bersama. Mulai dari Trimester I dimana tubuh sang ibu harus beradaptasi dengan hormon kehamilan. Yang wujudnya sering kita temui seperti mual muntah, ngidam. Disini peran suami sangat dibutuhkan, untuk para suami harus siap sedia karena sang istri ingin dimanja-manja di fase ini. Lalu apakah sang suami terus menerus melayani apa yang di inginkan sang istri ketika hamil ? apakah suami gak boleh me time ? NO tentu saja boleh dan harus di komunikasikan dengan kedua belah pihak, jangan sampai malah ribut karena miss comunication.
 Diatas hanya beberapa hal-hal rumit yang akan dilalui saat berumah tangga. Ternyata banyak yang harus dipersiapkan sebelum melangkah ke pelaminan. Apa saja ? Finansial kenapa finansial karena banyak rumah tangga yang berujung di perceraian karena masalah ekonomi, untuk yang perempuan mari kita berdaya secara ekonomi jangan bergantung pada suami, karena suami tidak selalu di samping kita, karena suami tidak selalu di puncak kejayaan, bagaimana jika sang suami bangkrut ? apakah kita sudah siap ? .
Kesiapan mental harus di persiapkan, rumah tangga bukan lagi tentang aku dan kamu namun kita, menjaga komunikasi itu penting melakukan quality time di akhir pekan bersama pasangan itu juga penting agar menjaga hubungan rumah tangga tetap harmonis. Apakah sudah siap jika ditanya tentang momongan ? apakah sudah siap jika ternyata dalam mendapatkan momongan tidak semudah kebanyakan orang ? bagaimana jika ternyata kita terdiagnosis tidak mempunyai keturunan ? bagaimana jika anak yang dilahirkan disabilitas ? bagaimana jika ternyata pasangan kita melakukan KDRT ?
Keadaan sosial apakah kita sudah siap jika area bermain kita, waktu-waktu yang banyak kita habiskan bersama teman menjadi terbatasi ? buat yang tinggal di desa apa sudah siap mengikuti arisan ibu-ibu PKK di akhir pekan, yang biasanya kita habiskan dengan teman-teman untuk berkeliling mall ?.
Dan masih banyak lagi yang harus di persiapkan mengenai pernikahan. Maka kurang elok rasanya jika yang di suguhkan hanyalah bagian yang indah indah saja. Padahal kita harus prepare untuk kemungkinan kemungkinan terburuk. Menikah bukan hanya tentang selangkangan namun perjalanan panjang kehidupan. Disebuah perjalanan kehidupan pasti ada badai.  Buat kalian yang saat ini masih sendiri atau masih pacaran, no problem itu kesempatan bagi kalian untuk meningkatkan kapasitas diri.
Wah setelah membaca uraian diatas saya jadi mikir mikir lagi nih buat melangkah ke jenjang pernikahan banyak yang harus di perbaiki dan di persiapkan ternyata. Lalu apakah salah jika saya memutuskan untuk tidak menikah ? tidak. Itu hak setiap individu. 
LF (Moyudan, 19 Mei 2020)

Komentar