way


Way, 24 tahun, 2019 “gak mau lah, malu aku nanti nama kampus tercoreng gara-gara aku”

Sebut saja Way perempuan berambut ikal dan mempunyai mata hazle, aku mengenalnya sejak awal perkuliahan. Kita berdua kuliah di institui kesehatan. Way anak yg periang, mudah berteman, mudah berbaur dengan yg lainnya. Sampai satu ketika aku tinggal satu kontrakan dengan si Way, dari situ aku mulai mengetahuinya lebih dalam. Dibalik sifat periangnya dia menyimpan banyak cerita dan pengalaman pilu selama hidupnya.
Banyak perilaku Way yg beresiko, dia sering merokok di dalam kamar. Awalnya dia sembunyi sembunyi ketika merokok lama kelamaan karena kami sudah akrab, dia mulai mengeluarkan kebiasaan merokoknya di luar kamar, teras depan kontrakan. Gak hanya sampai disitu Way sering bergonta-ganti pasangan seksual ada 1,2,3 atau lebih lelaki yg sudah melakukan hubungan seksual denganya selama ia berada satu kontrakan denganku.
Dibalik perilakunya yg menyimpang ternyata ada pengalaman pilu yg ia alami. Dia korban dari toxic relationship yg terjadi saat masih di kampung halamannya. Mulanya dia dipaksa melakukan hubungan seksual oleh sang pacar, sering dimintain uang, sampai dia merelakan BPKB motornya di gadaikan oleh sang pacar. Orangtua dari Way keduanya sama sama bekerja mulai dari pagi hingga sore hari, mereka jarang sekali meluangkan waktu untuk mengobrol. Sehari-hari Way sendirian dirumah.
Awalnya Way terpaksa melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Tapi semakin kesini Way seperti kecanduan untuk melakukan hubungan seksual. Aku sebagai sahabatnya merasa khawatir dengan kondisi Way. Aku sering menawarkan diri untuk mengantarkannya ke pelayanan kesehatan, agar ia tau tentang kondisi dirinya terutama organ reproduksi. Way sering menolak ajakan ku, karena ia malu sudah tidak perawan tapi belum menikah.
  Way sering mengatakan “ gak mau lah, malu aku nanti nama kampus tercoreng gara-gara aku ”. Dari sini aku mengugurkan niat untuk memaksanya periksa ke pelayanan kesehatan. Benar juga kata Way apa kata orang nanti ? belum menikah namun datang ke pelayanan kesehatan untuk periksa IVA/Papsmear. Mungkin disini aku bisa mematahkan  pernyataan tentang “ Semakin tinggi ilmu pengetahuan maka akan berdampak pada perilaku seseorang tersebut ”. Kita sama sama anak kesehatan yang sudah paham betul bahwa yang sudah melakukan hubungan seksual aktif berpotensi untuk terkena kanker serviks, apalagi yang bergonta-ganti pasangan/ melakukan hubungan seksual diusia dini.
Namun jika ilmu pengetahuan saja yg bertambah tanpa ada dukungan dari lingkungan sekitar, ya seperti kita ini. Ilmu pengetahuan yg kami peroleh hanya sebatas teori saja tanpa bisa kita aplikasikan di kehidupan kita sendiri. Seharusnya para pertugas kesehatan melayani tanpa mendiskriminasi. Ya memang kita tidak langsung di diskriminasi saat pemeriksaan, tapi bisa jadi kita jadi bahan obrolan seharian di puskesmas/klinik tempat kami periksa.
Penanaman anti diskriminasi anti judgemental pada petugas kesehatan seharusnya sudah di tanamkan semenjak dibangku perkuliahan dan seharusnya dibawa sampai kedunia kerja. Agar klien nyaman dalam melakukan pemeriksaan. Dengan nyamannya pasien yg datang ke petugas kesehatan, lebih memudahkan petugas kesehatan juga dalam memberikan penanganan yg efektif. Lebih cepat diketahui suatu penyakit lebih mudah pula dalam memberikan penanganan, dan meminimalkan angka kematian.

Komentar