Kur dengan segala kegelisahannya


Kur 23 tahun, 2020 “ Salahkah jika aku memilih untuk tidak  berTuhan ?”
            Kur adalah pasanganku, aku sudah mengenalnya sejak pertengahan tahun 2016. Di awal perjumpaan kami, tidak ada yang istimewa terasa biasa saja. Dia adek tingkat ku di bangku kuliah, yaa kita dia mulai menyukai ku saat kegiatan Ospek kampus. Layaknya mahasiswa baru pada umunya Kur sering sekali menghubungi ku via Line untuk menanyakan beberapa tugas Ospek, padahal aku ini bukan kakak pendampingnya. Dari sini aku mencium aroma-aroma berbau modus.
            Tiga atau empat bulan setelah kegiatan ospek, Kur semakin gencar dan intensif menghubungiku. Sampai pada akhirnya hati ku luluh dibuatnya. Dan kita resmi untuk berpacaran. Hari-hari sudah berlalu tahun-tahun pun sudah kita lewati bersama. Banyak kenangan yang secara tidak sengaja telah kami ukir bersama. Tidak banyak yang berubah dari seorang Kur, dia tetap lelaki yang sabar dan dewasa. Meski secara umur lebih tua aku daripada Kur, tapi secara kedewasaan Kur lah juaranya.
            Sampai suatu ketika, kita sedang duduk berdua di salah satu coffe. Tiba tiba Kur berkata “ besok anakku mau aku bebaskan untuk beragama apa saja ”. Aku terkejut mendengar perkataannya, secara dari background keluarganya, orangtua Kur sangat religius dan fanatik. Saat itu aku hanya berkata “  ya gapapa asal kamu bisa mempertanggung jawabkan pada Tuhan ”. Perkataan ku cukup membuatnya terdiam lama dan kami memutuskan untuk segera pulang.
            Aku sempat bingung dengan pernyataannya. Sempat terlintas di pikiranku untuk menolak argumennya. Tapi ku urungkan. Satu minggu setelah perjumpaan yang kemaren, aku bertemu lagi dengan Kur. Kita terbiasa untuk bertemu hanya satu kali dalam seminggu. Seperti biasa Kur menjemputku di kosan lalu kita pergi buat sekedar makan atau jalan jalan.  “ temenku ada yang pindah agama lo ”, ucap Kur sembari menyeruput kopi. “ Kenapa ? ” jawabku singkat. Kur mengubah posisi duduknya agar lebih dekat denganku. “ Dia gak nyaman di agama sebelumnya, merasa di diskriminasi, merasa agama sebelumnya tidak toleransi, ada juga temenku yang memutuskan buat gak berTuhan karena menurutnya  itu jalan tengah tapi dia tetap melaksanakan ibadah sesuai agama sebelumnya yaa bedanya Cuma buat formalitas ” jelas Kur kepadaku.
            Aku tak menggubris penjelasan Kur kuanggap hanya angin lalu. Mungkin Kur sedang kehabisan topik pembicaraan pikirku. Sampai suatu saat Kur tiba tiba nyeletuk “ menurutmu, salahkah aku jika memilih tidak ber-Tuhan ?”. Kalimat singkatnya mampu membuatku terpatung sepersekian detik. Aku tak menjawabnya karena aku pun bingung. Aku mencoba membuatnya tak merasa di diskriminasi. Banyak hal dikepalaku bagaimana besok saat kita ikrar pernikahan ? bagaimana besok ketika orangtua ku mengajaknya untuk beribadah ? bagaimana caranya mendidik anak anak kita kelak ?.
 Berhari-hari setelahnya aku baru dapat menyimpulkan bahwa kepercayaan atau agama adalah hak setiap manusia. Manusia bebas untuk memeluk agama atau kepercayaan apapun sesuai dengan dirinya.
            Pilihan tidak ber-Tuhan tetap menjadi gejolak dihati, bagaimanapun manusia tetap ada kebutuhan dengan Tuhan terkait kebutuhan rohani-nya. Untuk pernyataan Kur terkait agama anak anak kami, aku juga memutuskan untuk melonggarkan atau membebaskan anak ku untuk  memilih agama/kepercayaan apapun sesuai dengan keinginannya tapi dengan syarat dia harus bertanggungjawab dengan pilihannya dan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.
            Toh selama ini aku beraada di agama ku sekarang karena turunan atau bahkan tuntutan bukan karena aku yang memilih, sehingga dalam melaksanakan perintah agama kurang maksimal dan jauh dari kata taat. Aku berpikir, buat apa aku memaksakan kehendak kepada anakku, ternyata anakku tak bisa menjalaninya, dan berujung membuatnya masuk kedalam Neraka.
            Sehingga saat pertemuan ku dengan Kur, aku dapat menjawab “ Kur aku tau kegelisahanmu terhadap agamamu, kamu boleh kok buat pindah agama atau kepercayaan sesuai dengan keinginanmu dan kenyamananmu, tapiii tetep harus bertanggungjawab atas agama yang sudah kamu pilih lo! ” ucapku mengawali percakapan kita hari ini. “ Emm kalo soal agama anak-anak kita semua aku serahkan ke anak-anak besok biarkan dia yang memilih jalan hidupnya sendiri tapi ada syaratnya juga harus bertanggungjawab dan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat !” jelasku lebih lanjut. Sekarang giliran Kur yang terpatung, tak lama kemudian dia menjawab “ Oke deal! ”.
            “ Sebentar Kur, emang besok istri mu aku ? ” tanyaku. “ Yaa mau sapa lagi ? ” jawabnya, “  kamu, satu aja dah ribet ”. Tanganku reflek untuk segera melayangkan cubitan di pahanya. Dia tetap santai sambil menghabiskan kopi yang di pesannya. “ Emang kapan kita nikah Kur ? ”, tanyaku padanya, pertanyaan yang udah lama ku pendam dan ingin kuajukan kepadanya. Sambil tetap memandangi Kur, jantungku berdegub kencang menunggu jawabanya. Aku dah siap jika jawabanya ia tak siap menikahiku di tahun ini. “ Habis aku dekade ya ” kata Kur.
            Jawabannya singkat tapi mampu membuat hati berbunga-bunga. Aku buru-buru menutup semua pikiranku yang sudah membayangkan bagaimana pernikahan kita kelak. Aku tetap tidak ingin menggantungkan harapan yang besar pada siapapun orangnya termasuk Kur.


Komentar